Tepat tanggal 18 April 2014 umat Kristiani memperingati
Kematian Yesus Kristus. Bagi sebagian orang yang berada di luar agama Kristiani
menganggap bahwa salib itu adalah tanda kutukan ataupun kebodohan. karena bagi
mereka bagaimana mungkin Tuhan yang adalah pencipta langit dan bumi mati diatas
salib.
Dalam Islam, salib adalah azab, bukan
"kemenangan". ayat;"Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang
yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah
mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal
balik , atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu
(sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh
siksaan yang besar, ( سورة المائدة , Al-Maeda, Chapter #5, Verse #33).
Jadi benarlah bahwa apa yang dikatakan
Rasul Paulus dalam 1 Korintus 1 : 18 "Sebab pemberitaan tentang salib
memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang
diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah."
Kemenangan dalam kamus Besar bahasa Indonesia
berarti dapat mengalahkan musuh. Sekarang pertanyaannya adalah Kemenangan
seperti apakah yang didapatkan melalui Salib ?. Apakah dengan jalan memikul
Salib kita dapat menang ? menang dari siapa?.
Oke mari kita telisik lebih dalam. Pada
kitab Perjanjian Lama khususnya kitab Kejadian, diceritakan mengenai penciptaan
manusia pertama yaitu Adam dan Hawa. Adam dan Hawa tinggal dalam Taman Eden.
Tuhan Allah memberikan suatu perintah kepada mereka agar tidak memakan pohon
yang berada di tengah-tengah taman itu. Singkat cerita, mereka pun tergoda oleh
tipu daya Iblis yang dikisahkan dalam simbol ular. Akhirnya mereka pun diusir
dan dikutuk oleh Allah.
Apa yang dapat kita pelajari dari sini ?
Pertama manusia telah jatuh dalam dosa. Dosa seperti apa? Dosa karena tidak
mematuhi perintah Allah, dosa karena tidak memenuhi kriteria yang Allah
berikan. Kedua manusia diusir dari kediaman Allah. Artinya manusia sudah tidak
memiliki hubungan lagi dengan Allah. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, maka
manusia tidak memiliki lagi kemuliaan Allah. Segala hal yang baik yang telah
diciptakan oleh Allah telah menjadi rusak. Seperti yang tertulis dalam Surat
Roma 3 : 12 "Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna,
tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak."
Sekarang kita tahu bahwa semua manusia
berdosa, tidak ada yang tidak. Semua manusia telah kehilangan hubungan dengan
Allah. Bagaimana cara memperbaikinya? hanya ada satu cara yaitu Allah sendiri
yang bisa. Apakah cuma Allah sendiri yang bisa, bisakah manusia yang
memperbaikinya?. Sekarang saya mau bertanya bisakah manusia melihat Allah?,
bisakah manusia yang merupakan ciptaan berjumpa dengan penciptanya?. bisakah
manusia yang terbatas menemui Allah yang tidak terbatas?. Manusia yang dalam
keadaan jasmani sedangakan Allah yang dalam keadaan roh. Manusia tidak akan
bisa bertemu dengan Allah, bagaimanapun juga caranya. Apapun yang dia lakukan,
manusia tidak akan bisa. Cuma Allah yang bisa memperbaiki hubungan itu. Allah
berinisiatif memulihkan hubungan itu dengan mengutus Yesus Kristus ke dalam
dunia yang fana ini. Yesus Kristus yang adalah Allah sendiri turun menjadi
manusia untuk menebus dosa manusia.
Sekarang pertanyaannya adalah apakah
dengan cara salib, Yesus Kristus menebus dosa manusia? apakah tidak ada cara
yang lain?. Dalam Kitab Ulangan 21 : 23 dikatakan "Seorang yang digantung
terkutuk oleh Allah". Artinya manusia seharusnya dihukum mati dengan salib
karena perbuatan mereka. Salib adalah lambang kutukan Allah. Yesus Kristus
telah menggantikan manusia dengan mati diatas kayu salib, seperti yang tertulis
dalam Galatia 3 : 13 - 14 "Kristus telah menebus kita dari kutuk
hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis:
"Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!" Yesus Kristus
telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada
bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan
itu."
Akhirnya kita tahu bahwa setiap orang
yang percaya kepada Kristus telah ditebus dengan harga yang mahal. Dengan cara
tergantung diatas kayu salib menghapus kutuk Allah. Kemenangan yang diberikan
Kristus kepada setiap orang yang percaya adalah sebagai berikut
Dead to Sin
Sebelum kita dapat mengalami hidup yang berkebangkitan, kita harus terlebih dulu mati. Tidak akan ada kebangkitan kalau tidak pernah terjadi kematian. Kita tidak boleh lagi hidup di dalam dosa, kita harus mati terhadap dosa-dosa kita. Mati terhadap dosa berarti memutuskan hubungan dengan dosa, dan dosa tidak lagi berkuasa atas hidup kita sebagai raja, dan kita tidak lagi mematuhi kuasa dosa. Bukan berarti kita tidak akan pernah lagi jatuh di dalam perbuatan dosa – karena kita masih hidup dalam daging – tetapi kita tidak lagi menyerah pada kuasa dosa. Kalau dahulu kita tidak bisa untuk tidak berbuat dosa karena kita adalah hamba dosa, sekarang kita bisa untuk tidak takluk kepada kuasanya.
Newness of
Life
Siapa dari kita yang pernah terpikir sebelumnya – ketika kita masih mati di dalam dosa – kalau ada hidup yang berbeda yang dapat dijalani ketika kita kembali pada Kristus yang telah tersalib dan sudah bangkit? Hidup yang tak pernah kita miliki sebelumnya, hidup di mana kita merasa, berpikir, dan bertingkah laku yang baru terhadap hidup yang lama. The newness of life (baca: hidup yang baru), sebagaimana dijelaskan oleh Matthew Henry adalah kondisi di mana orang tersebut sekarang adalah seseorang yang berbeda dengan dia di masa yang lalu. Bukan hanya berbeda, tetapi bertolak belakang. (“The man is what he was not, does what he did not”). Di dalam terjemahan bahasa Inggris, dapat diterjemahkan sebagai “to walk in the newness of life”. Berjalan dalam hidup yang baru, berarti berjalan dengan prinsip yang baru, menuju tujuan yang baru, memilih jalur yang baru untuk dijalani, memiliki pemimpin yang baru untuk diteladani, dan teman-teman yang baru untuk berjalan bersama.Yang lama dibuang, yang baru diantisipasi dengan kekuatan dan anugerah dari Tuhan. C.H Spurgeon pernah membahas beberapa hal yang penting mengenai hidup yang baru ini yang akan saya bagikan dalam beberapa poin di bawah ini.
Siapa dari kita yang pernah terpikir sebelumnya – ketika kita masih mati di dalam dosa – kalau ada hidup yang berbeda yang dapat dijalani ketika kita kembali pada Kristus yang telah tersalib dan sudah bangkit? Hidup yang tak pernah kita miliki sebelumnya, hidup di mana kita merasa, berpikir, dan bertingkah laku yang baru terhadap hidup yang lama. The newness of life (baca: hidup yang baru), sebagaimana dijelaskan oleh Matthew Henry adalah kondisi di mana orang tersebut sekarang adalah seseorang yang berbeda dengan dia di masa yang lalu. Bukan hanya berbeda, tetapi bertolak belakang. (“The man is what he was not, does what he did not”). Di dalam terjemahan bahasa Inggris, dapat diterjemahkan sebagai “to walk in the newness of life”. Berjalan dalam hidup yang baru, berarti berjalan dengan prinsip yang baru, menuju tujuan yang baru, memilih jalur yang baru untuk dijalani, memiliki pemimpin yang baru untuk diteladani, dan teman-teman yang baru untuk berjalan bersama.Yang lama dibuang, yang baru diantisipasi dengan kekuatan dan anugerah dari Tuhan. C.H Spurgeon pernah membahas beberapa hal yang penting mengenai hidup yang baru ini yang akan saya bagikan dalam beberapa poin di bawah ini.
Hidup yang
baru berarti baru dalam hal prinsip dan
motivasi yang baru. Ketika kita masih mati di dalam dosa, kita melakukan
hal-hal dengan prinsip yang wajar sebagai orang berdosa. Kita melakukan hal
yang baik atau benar karena takut dihukum, supaya orang lain senang, atau untuk
mendapatkan upah tertentu, bahkan untuk kepuasan diri karena sudah menjadi
orang yang lebih baik. Tetapi ketika kita mengalami atau mendapatkan hidup yang
baru, kita mempunyai prinsip dan motivasi yang baru. Kita melakukan hal yang
baik bukan untuk kepuasan diri atau untuk mendapatkan upah, tetapi untuk
menyenangkan Kristus yang telah mati tersalib untuk dosa-dosa kita. Kita bahkan
rela melakukan hal yang sepertinya merugikan diri sendiri untuk semakin
menyatakan kemuliaan Tuhan bagi orang-orang sekitar. Saya teringat ketika
kemarin sempat chat dengan teman
di Negeri Singa mengenai mempertahankan paspor negara asal. Dia adalah seorang
ahli dalam bidang fisika dan dia ditawari untuk melepaskan paspor negara asal
agar mempunyai prospek yang lebih baik dan menjanjikan di negeri Singa
tersebut. Dia menolak semua janji dan tawaran tersebut (baca:reward) karena dia ingin kembali ke negara
asalnya dan menyatakan kemuliaan Tuhan lebih lagi.
Hidup yang
baru mempunyai obyek yang baru. Di
dalam hidup yang lama, obyek yang paling utama adalah diri (baca: cinta diri).
Tetapi di dalam hidup yang baru, cinta diri berubah total menjadi cinta Tuhan.
Yang dipikirkan siang dan malam bukan lagi diri, tetapi mengenai bagaimana
untuk lebih mengasihi Tuhan, menyenangkan Tuhan, menjauhi yang dibenci Tuhan,
banyak berbicara dengan Tuhan, dan mengutamakan-Nya dalam keseharian hidup.
Cinta Tuhan begitu menguasai hati dan pikiran kita, hingga mau tidak mau kita
makin melupakan diri kita dan mengutamakan Dia.
Hidup yang
baru mempunyai harapan yang baru.
Orang yang tidak mengenal kuasa kebangkitan Tuhan pasti menggigil menghadapi
kematian yang di mana tak seorang pun dapat menghindarinya. Tetapi orang di
dalam hidup yang baru mempunyai pengharapan akan kehidupan immortal atau eternal dan dengan semangat antusias menantikannya sambil
terus menyucikan dirinya sebagai suatu sikap menantikan kedatangan kekasih
jiwanya pada kedatangan Kristus yang kedua kalinya.
Hidup yang
baru memiliki harta yang baru. Yang
kita pandang sebagai harta dalam manusia lama kita adalah aset yang terlihat
oleh daging kita. Kekayaan kita adalah hal-hal yang dapat kita lihat dengan
kasat mata kita. Tetapi dalam hidup yang baru, kita memiliki harta yang baru
yaitu iman. Tuhan membuat kita kaya di dalam iman, bahkan melebihi harta kekayaan
kita di dunia ini. Kita tidak lagi mengeluh akan apa yang tidak kita miliki
secara materi di dalam dunia, tetapi kita memuliakan Tuhan karena harta yang
baru yang tak terkatakan yang Tuhan berikan pada kita, yang tak bisa digantikan
oleh siapapun, yaitu Kristus sendiri.
Christ’s Reflector
Ketika kita menjalani hidup yang baru di dalam kuasa kebangkitan Kristus, seharusnya membawa perbedaan yang signifikan yang membedakan kita dengan orang-orang dunia ini. Ketika orang-orang di sekitar kita melihat hidup kita, siapa yang terefleksikan oleh hidup kita? Apakah kita merefleksikan keagungan dan kemuliaan Tuhan kita atau tidak?
Ketika kita menjalani hidup yang baru di dalam kuasa kebangkitan Kristus, seharusnya membawa perbedaan yang signifikan yang membedakan kita dengan orang-orang dunia ini. Ketika orang-orang di sekitar kita melihat hidup kita, siapa yang terefleksikan oleh hidup kita? Apakah kita merefleksikan keagungan dan kemuliaan Tuhan kita atau tidak?
Sebagai guru
baru di sebuah sekolah, saya belum mengenal banyak orang tua murid. Oleh karena
itu, ketika ada kesempatan menjadi penyambut dalam sebuah seminar keluarga,
saya memakai kesempatan ini untuk lebih mengenal orang tua dari murid-murid
yang diajar. Ada kalanya karena beberapa dari mereka datang agak telat, maka
tidak ada kesempatan untuk benar-benar mengetahui siapa anak mereka. Dan
kesempatan itu saya gunakan untuk menebak-nebak dari fitur wajah mereka. “Hmm... hidungnya ini benar-benar mirip dengan
murid yang diajar” atau “wah dari
cara jalannya ini sama persis seperti murid di kelas SMP yang tiap hari
ditemui”. Banyak sekali resemblance yang
ditemukan di dalam orang tua dengan murid yang diajar. Tebak-tebakan ini tidak
selalu tepat, tetapi hampir selalu benar. Anak-anak sungguh-sungguh mewarisi “certain traits” dari orang tua mereka, kadang
dominan, kadang tidak begitu. Waktu saya bertemu dengan murid-murid di kemudian
hari, maka senyum simpul pun tak bisa dihindari mengingat kesamaan dengan orang
tua yang sudah ditemuinya di hari sebelumnya. Bukan hanya anak-anak usia SMP
dan SMA yang tertebak, bahkan sebelum acara seminar selesai, sekitar pukul 5.30
sore, terlihat seorang balita yang sedang berjalan. Dari ekspresi antusiasime
dan kuriositas anak itu dalam belajar berjalan, dari cara berjalan anak itu
yang tergopoh-gopoh langsung mengingatkan saya kalau itu adalah cucu dari pendiri
gereja yang dihadirinya. Seketika melihat anak itu, langsung diingatkan akan figure yang selama ini sudah dikagumi.
Ajaib sekali, dari anak yang kecil ini, benar terlihat resemblance yang sangat signifikan dengan
kakeknya.
Apakah itu
juga terjadi dengan diri kita yang sudah memiliki hidup yang baru? Apakah
ketika orang lain menyaksikan hidup kita, mereka dapat dengan segera melihat
Bapa di surga dan memuliakan-Nya karena kita menunjukkan karakter-karakter-Nya
yang agung, mulia, penuh cinta kasih, dan keadilan? Atau ketika orang lain
melihat kita, mereka malah mempertanyakan apakah sungguh kita adalah anak dari
Bapa kita; karena tidak ada satu pun kemiripan yang didapati? Bahkan mereka
melihat kemiripan kita malah lebih dekat dengan musuh Bapa kita, yaitu iblis
sendiri? Celakalah kita kalau kita kedapatan demikian!
Kematian
Tuhan Yesus yang menggantikan kita yang terkutuk ini juga membawa kita untuk
mati terhadap dosa-dosa kita. Kebangkitan Tuhan Yesus dari kubur memberikan
kuasa kepada kita untuk mengalami hidup yang baru untuk semakin serupa dengan
Dia. Sehingga ketika kita gagal untuk menjadi reflektor dari kemuliaan Kristus,
segeralah berlari kembali kepada kekuatan ‘throne of grace’ yang
berasal dari salib-Nya. Kiranya cinta kasih Tuhan dan kuasa kebangkitan Kristus
memberikan kekuatan yang baru untuk kita hidup yang baru di dalam Kristus dan
merefleksikan kemuliaan-Nya.
Selamat
Paskah!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar